Berita
Local

IOM dan Mitra Melatih Lebih dari 800 Pekerja Migran yang Pulang dan Keluarga untuk Pemberdayaan Ekonomi

Indonesia – IOM dan Semut Nusantara telah merampungkan rangkaian pelatihan pemberdayaan ekonomi, yang dihadiri oleh 809 (laki-laki: 254, perempuan: 557) pekerja migran yang pulang dan anggota keluarganya di Flores Timur (Nusa Tenggara Timur), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), Wonosobo (Jawa Tengah), dan Karawang (Jawa Barat). Rangkaian pelatihan diadakan di bulan Agustus hingga November 2022.

Rumah bagi ratusan ribu pekerja migran, Indonesia tidak terlepas dari dampak pandemi COVID-19, dimana tidak sedikit pekerja migran yang pulang kehilangan mata pencaharian, dan keluarga mereka menjadi semakin rentan dikarenakan ketergantungan akan remitansi yang dikirimkan ke rumah. Pada survei yang sebelumnya dilaksanakan oleh IOM di awal pandemi pada tahun 2020 menunjukan pentingnya rencana reintegrasi ekonomi yang efektif dan berkelanjutan untuk mendukung pekerja migran dan keluarganya terutama dikarenakan lebih dari 70% dari responden survei mengungkapkan penurunan pemasukan keluarga yang signifikan.

“Sebagai inisiatif bersama, PIJAR Indonesia, yang berarti “cahaya” dalam bahasa Indonesia dan merupakan kepanjangan dari Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran Indonesia, bertujuan untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi dampak ekonomi dan sosial pandemi yang dialami pekerja migran dan keluarga melalui berbagai bentuk kegiatan pengembangan kapasitas,” seperti yang dijelaskan oleh Shafira Ayunindya selaku National Project Officer dari IOM Indonesia.

Disusun berdasarkan kebutuhan di tingkat komunitas dan berdasarkan pada materi pelatihan yang dikembangkan di bawah PIJAR, pelatihan tersebut terdiri dari tiga tahapan berbeda, yaitu Internalisasi, Orientasi, dan Mastery. Tahapan pertama “internalisasi”, dihadiri secara daring oleh pekerja migran dan keluarga untuk mendukung mereka mengenali motivasi dalam diri dan tantangan sehubungan dengan mata pencaharian. Sebagai tahapan kedua, “orientasi” memberikan kesempatan bagi peserta untuk terlibat dalam dua hari pelatihan interaktif yang di fasilitasi bersama oleh pelatih dari pemerintah maupun non-pemerintah yang sebelumnya telah dilatih dan diharapkan untuk mendukung peningkatan keterampilan wirausaha dan personal branding.

Topik seperti ide bisnis, literasi keuangan, dan pengembangan curriculum vitae merupakan materi yang diajarkan. Pada tahapan “mastery”, pekerja migran yang telah berpartisipasi dan tertarik terhadap materi dan coaching clinic yang lebih spesifik telah didukung lebih lanjut oleh para ahli dari pihak swasta dan institusi pemerintah yang relevan untuk mendalami lebih lanjut topik-topik seperti akses terhadap modal, marketing digital dan daring, rancangan produk, dan lisensi produk, dan banyak lainnya. Setelah tahapan ini, pekerja migran yang telah berpartisipasi didampingi lebih lanjut melalui tugas-tugas yang diberikan secara jarak jauh dan coaching berkelanjutan secara daring.

“Pelatihan pemberdayaan ekonomi memberikan manfaat kepada pekerja migran yang pulang dikarenakan mereka terkadang tidak memahami apa yang perlu dilakukan dengan uang yang didapatkan ketika bekerja di luar negeri. Pekerja migran yang kembali biasanya menghabiskan uang mereka pada hal-hal yang bersifat konsumtif, sehingga mendorong pekerja migran untuk kembali bermigrasi,” ungkap Ni Kadek Ernawati dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesian (BP3MI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang sebelumnya berpartisipasi pada Pelatihan bagi Pelatih dan terpilih untuk menjadi co-facilitator.

Peserta juga diberikan materi pembelajaran secara daring melalui podcast yang tersedia di media sosial. Melalui pelatihan ini, banyak pekerja migran dan keluarga yang berpartisipasi mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan pengetahuan praktis dalam hal keterampilan wirausaha untuk mendukung diri mereka dan keluarga dalam membangun kembali pendapatan dan penghasilan yang cukup dan berkelanjutan.

“Saya memiliki beberapa usaha dan saya belajar banyak untuk bisnis saya, seperti menentukan harga dan mempromosikan produk melalui wadah sosial media. Selama pelatihan, peserta lain dan pelatih menjadi tahu bahwa saya yang menjual Sambal Nyonya Aaron. Setelah pelatihan, saya berencana untuk mempersiapkan lisensi atau sertifikasi untuk produk saya sehingga dapat memasuki pasar, seperti melalui mini mart,” ujar Martha Rikhadela, salah satu peserta dari Lombok Timur yang merupakan pekerja migran purna.

PIJAR Indonesia didukung oleh program pemulihan dan respon COVID-19 IOM yang didanai oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) dan Biro Kependudukan, Pengungsi dan Migran (PRM) Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon menghubungi Shafira Ayunindya di IOM Indonesia, melalui e-mail: sayunindya@iom.int, tel +6282339938734

***