Cerita
By:
  • Josephine Imelda | Programme Assistant I (Communications)

Cimahi, Jawa Barat - Berasal dari Cimahi, Jawa Barat, dan dibesarkan di keluarga kelas menengah, Novi menikmati masa kecil yang bahagia dan bisa mengenyam pendidikan tinggi sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk menikah pada tahun 2010 dan menjadi seorang ibu rumah tangga. 

Sepuluh tahun kemudian, pernikahannya berakhir, membuat Novi menjadi orang tua tunggal atas seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Menanggung beban sebagai orang tua tunggal, dia terus berusaha mencari peluang kerja, walau kerap berakhir dengan penolakan. 

“Mereka selalu bilang saya bukan lagi kelompok usia produktif. Sulit dipercaya bahwa produktivitas dibatasi pada usia 20-an. Budaya kerja ini diskriminatif,” keluh Novi. Bebannya semakin besar karena mantan suaminya juga meninggalkan banyak hutang, sehingga semakin sulit baginya untuk memberi nafkah yang layak bagi anaknya. 

Di tengah keputusasaannya, Novi menghubungi teman kuliahnya, Anthony (nama samaran), yang kemudian bercerita tentang sebuah tawaran kerja di Thailand. Mengetahui bahwa Anthony memutuskan untuk tidak menerima pekerjaan itu karena tidak mendapatkan izin keluarga, Novi menawarkan diri mengambil pekerjaan itu demi menyelesaikan masalah keuangannya. 

 

Bermigrasi ke luar negeri 

Melalui agen penempatan di Bekasi, Jawa Barat, Novi mendapat bantuan untuk pengurusan dokumen perjalanannya, dan dia dijanjikan bekerja sebagai Customer Service, dengan penghasilan THB 30.000 (kira-kira USD 850) per bulan. Agen tersebut meyakinkannya bahwa Perusahaan tempat Ia bekerja nantinya akan menanggung semua biaya termasuk pengurusan dokumen, penginapan, dan makanannya selama dia tinggal di Thailand. 

Bersemangat dengan prospek pekerjaan tersebut, Novi tidak terlalu memperhatikan kontrak kerjanya yang ditulis dalam bahasa Mandarin, bahasa yang tidak dimengerti Novi. 

Bersama 15 karyawan lainnya asal Indonesia, Novi memulai perjalanannya ke Thailand. Setibanya di sana, perwakilan perusahaan menemui mereka dan mengantar mereka selama 9 jam dengan mobil melewati perkebunan, lahan kosong dan beberapa pos pemeriksaan menuju Thailand utara. Yang mengejutkan, perjalanan mereka dilanjutkan dengan naik perahu menuju perbatasan Thailand dengan Myanmar. 

“Setelah menyeberangi sungai, kami melihat bendera asing yang bukan milik Thailand, dan kami disambut oleh kelompok bersenjata. Saya takut dan merasa ada yang tidak beres dengan pekerjaan itu,” kenang Novi. 

Novi berdiri di depan rumah orang tuanya di Cimahi, Jawa Barat

Janji vs kenyataan 

Selama tujuh bulan, Novi dipaksa bekerja di Xinghua Park, salah satu dari beberapa kawasan bisnis di Myanmar. Dikelilingi tembok tinggi dan dijaga oleh tentara bersenjata, distrik ini memiliki sel tahanan bagi pekerja yang melanggar aturan. 

Di sana, Novi diberikan telepon dan komputer untuk bekerja dan keperluan pribadi. Tugasnya adalah membuat akun Facebook menggunakan identitas curian, kemudian terhubung dengan orang-orang dari Kanada atau Amerika Serikat untuk mendapatkan identitas dan nomor WhatsApp mereka kemudian meneruskan ke rekan-rekan lain untuk dilakukan skema penipuan. 

Bekerja di industri online scam menjadi mimpi terburuknya. Dia harus bekerja selama 19-21 jam sehari tanpa istirahat atau waktu tidur yang cukup. Dia juga tidak pernah dibayar karena mereka memotong biaya akomodasi dan makan dari gajinya. 

Jika gagal mencapai target, Novi mendapat hukuman fisik seperti lari, berdiri di tengah cuaca panas, plank, push-up, dan disengat arus listrik. Karena tidak dapat menahan penganiayaan, dia diam-diam merekam kekejaman tersebut melalui video dan membagikan kepada adik dan temannya di Indonesia dengan harapan mendapatkan perhatian dari Pemerintah Indonesia dan diselamatkan. 

Begitu perusahaan mengetahui adanya video tersebut, Novi dan rekan-rekannya langsung dikurung di ruangan kecil pengap selama seminggu tanpa makanan dan air. Kemudian, mereka dipindahkan ke ruangan lain dan dipukuli dengan besi dan tongkat bambu, kemudian disetrum. Selanjutnya, mereka menghabiskan satu minggu lagi di penjara distrik. 

Sementara itu, berkat bantuan adiknya, video yang dibuatnya berhasil viral di Indonesia hingga menarik perhatian pemerintah. “Perusahaan meminta USD 1.000 per orang untuk mengirim kami ke Thailand. Jika tidak, mereka mengancam akan mengambil organ kami. Untungnya, dengan bantuan pemerintah setempat, kami sampai di Thailand dengan selamat,” jelasnya. 

 

Dukungan IOM 

Setibanya di Thailand, Novi dan rekan-rekannya dari Indonesia disambut oleh KBRI. IOM menyediakan berbagai layanan kepada mereka, termasuk makanan, akomodasi, konseling hukum, dan penerjemah untuk mereka tinggal sementara. 

Meski telah kembali ke rumah, pengalaman Novi bekerja di industri online scam telah meninggalkan trauma mendalam baginya. 

IOM Indonesia memberikan bantuan uang tunai sebesar USD 1.250 untuk membantu memulihkan kepercayaan dirinya dan memulai bisnis baru. “Pelatihan yang ditawarkan IOM memberi saya landasan untuk memulai hal baru,” kata Novi. "Saya memulai karier baru sebagai penata rias," lanjutnya. 

Novi dengan peralatan rias yang disediakan oleh IOM sebagai bagian dari dukungan reintegrasi

Kisah Novi adalah satu dari ribuan kisah korban perdagangan orang (Victim of Trafficking/VOT) lainnya untuk industri online scam demi keuntungan finansial – sebuah tren yang sedang berkembang di Asia Tenggara. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mencatat lebih dari 3.400 warga negara Indonesia menjadi korban perdagangan orang untuk industri online scam antara tahun 2020-2023. Perempuan, terutama mereka yang memiliki kesulitan ekonomi atau masalah keluarga, sangat rentan menjadi korban perdagangan orang untuk industri ini. 

“Penegakan hukum harus menjadi salah satu kunci utama dalam memberantas perdagangan manusia karena tanpa penegakan hukum yang efektif, kejahatan ini akan terus tumbuh dan berkembang karena pengabaian akan tindak criminal ini,” kata Eny Rofiatul Ngazizah, Project Officer IOM Indonesia untuk Penanggulangan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). 

Sepanjang tahun 2005 - 2023, IOM telah memberikan bantuan kepada 9.708 korban perdagangan orang, yang terdiri dari 6.516 perempuan dan 3.192 laki-laki. Perempuan masih menjadi korban utama dan banyak di antara mereka yang dieksploitasi di sektor domestik. Pendekatan menyeluruh dari pemerintah untuk memastikan migrasi yang aman di kalangan pekerja migran perempuan harus diupayakan untuk mencegah mereka terjebak dalam situasi eksploitasi dan perdagangan manusia. Untuk membantu pemerintah mencapai hal ini, IOM Indonesia memberikan berbagai macam dukungan, termasuk mengidentifikasi, merujuk, dan melindungi VOT, serta mendeteksi, menyelidiki, dan menuntut kasus-kasus perdagangan manusia. 

Novi bersama seorang jurnalis dan staf IOM saat wawancara di rumah orang tuanya

“IOM memberikan konsultasi psikososial dan manajemen stres untuk membantu penyintas pulih dari trauma dan kembali menjadi anggota masyarakat yang aktif. Selain itu, IOM menawarkan keterampilan manajemen bisnis agar penyintas dapat menjalankan bisnisnya sendiri di masa depan,” kata Eny.