Hampton Park adalah sebuah daerah pinggiran terletak di sebelah Tenggara Kota Melbourne, Victoria. Di daerah yang relatif tenang ini, Sonia (44) dan kedua anaknya bermukim dan mulai menata kehidupan mereka kembali. Harapan yang sempat hilang, mulai kembali mengetuk kehidupannya.

Tiba di Indonesia

Sonia adalah seorang wanita asal Afghanistan. Ia bersama suami dan kedua anaknya terpaksa meninggalkan negara asalnya, Afghanistan, karena kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Taliban. Awalnya mereka ingin menuju ke Australia, namun mereka tidak dapat memasuki negara tersebut dan akhirnya mereka terdampar di Indonesia dan tinggal sementara demi menyelamatkan diri.

Sonia dan keluarganya pertama kali menjajakan kakinya di Indonesia pada tahun 2012, dimana IOM menempatkan mereka sekeluarga di Medan. Pada awal bermukim sementara di Medan,  Sonia merasa bahwa kehidupannya berubah dratis. Ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Hal ini tentu tidak mudah, karena ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus menjadi seorang pengungsi luar negeri.  Sering kali, ia mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya – akankah mereka bersekolah lagi? Dapatkah mereka meraih impian di masa depan? Dimanakah kami akan tinggal? Dan berbagai keraguan lain berkecamuk dalam Ibu dari dua anak ini.

Sampai pada suatu masa, ia menyadari bahwa rasa khawatir tidak akan mengubah keadaan; sebaliknya, sikap dan pandangan positif menjadikan kehidupan lebih dinamis. Sonia menyadari bahwa waktu adalah hal yang tidak terbatas bagi dirinya. Oleh karena itu, Ia memutuskan untuk berdamai dengan waktu dan bertekat untuk meniti harinya dengan menuntut ilmu guna menggapai hari depan yang lebih baik.

 

Menimba Ilmu

Selama berada di Indonesia, Sonia mengambil berbagai macam pelatihan yang ditawarkan oleh IOM, mulai dari keterampilan bahasa asing, kebersihan, perawatan rambut, dll. 

Salah satu pelatihan awal yang diambil Sonia adalah pelatihan Bahasa Inggirs.  “Ketika pertama kali tiba di Indonesia, saya sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris.  Saya belajar dari yang paling dasar dulu.  Saya diajari untuk mengenal alphabet terlebih dahulu. Walaupun pelatihan Bahasa Inggris tersebut hanya berdurasi selama enam bulan, namun sangat berguna bagi saya,” kata Sonia.  Ia menyadari dengan kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan dirinya untuk mulai beradaptasi pada kehidupan di negara yang nanti akan ia tempati. “Dengan mengerti bahasa lokal, Saya akan dapat mencari pekerjaan untuk bertahan hidup dan menghasilkan uang,” kata Sonia.

Selain bahasa Inggris, Sonia menemukan minat dirinya untuk dapat menguasai teknik perawatan dan pemotongan rambut serta make-up.  Maka, ketika pelatihan rambut dan make-up ditawarkan kepadanya. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung menyambut baik kesempatan tersebut.

 

Badai Kehidupan

Beberapa tahun berlalu sejak kedatangannya di Indonesia, akhirnya Sonia dengan berat hati memutuskan untuk berjalan sendiri dalam mengarungi kehidupan.  Sonia adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Pemukulan dan penganiayaan yang dialaminya, kerap disaksikan oleh kedua anaknya. Hal itu berlangsung cukup lama, sampai pada suatu saat, Sonia akhirnya menguatkan hati untuk berpisah dengan suaminya.  

Sonia melaporkan kejadian yang menimpa dirinya dan anak-anaknya kepada IOM dan meminta perlindungaan IOM agar tidak mengalami penganiayaan lebih lanjut.  IOM segera mengambil tindakan pengamanan dan menempatkan Sonia dan kedua anaknya dalam sebuah akomodasi khusus untuk perempuan dan anak di daerah Padang Bulan, Medan.  Kemudian, IOM menempatkan suami Sonia di daerah pengungsian di luar Medan. Hal dilakukan demi keselamatan Sonia dan kedua anaknya.

Sejak perpisahan Sonia dengan suaminya, satu hal yang selalu memacu Sonia agar berhasil dalam kehidupan – Ia ingin membuktikan bahwa dirinya dan anak-anak dapat hidup bahagia dan terlepas dari rasa ketakutan, kekerasan dan intimidasi yang menghantui dirinya selama ini.

 

Selamat Datang di Indonesia

Selama berada di Indonesia, Sonia mengambil berbagai macam pelatihan yang ditawarkan oleh IOM, mulai dari keterampilan bahasa asing, kebersihan, perawatan rambut, dll. 

Salah satu pelatihan awal yang diambil Sonia adalah pelatihan Bahasa Inggirs.  “Ketika pertama kali tiba di Indonesia, saya sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris.  Saya belajar dari yang paling dasar dulu.  Saya diajari untuk mengenal alphabet terlebih dahulu. Walaupun pelatihan Bahasa Inggris tersebut hanya berdurasi selama enam bulan, namun sangat berguna bagi saya,” kata Sonia.  Ia menyadari dengan kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan dirinya untuk mulai beradaptasi pada kehidupan di negara yang nanti akan ia tempati. “Dengan mengerti bahasa lokal, Saya akan dapat mencari pekerjaan untuk bertahan hidup dan menghasilkan uang,” kata Sonia.

Selain bahasa Inggris, Sonia menemukan minat dirinya untuk dapat menguasai teknik perawatan dan pemotongan rambut serta make-up.  Maka, ketika pelatihan rambut dan make-up ditawarkan kepadanya. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung menyambut baik kesempatan tersebut.

 

Badai Kehidupan

Beberapa tahun berlalu sejak kedatangannya di Indonesia, akhirnya Sonia dengan berat hati memutuskan untuk berjalan sendiri dalam mengarungi kehidupan.  Sonia adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Pemukulan dan penganiayaan yang dialaminya, kerap disaksikan oleh kedua anaknya. Hal itu berlangsung cukup lama, sampai pada suatu saat, Sonia akhirnya menguatkan hati untuk berpisah dengan suaminya.  

Sonia melaporkan kejadian yang menimpa dirinya dan anak-anaknya kepada IOM dan meminta perlindungaan IOM agar tidak mengalami penganiayaan lebih lanjut.  IOM segera mengambil tindakan pengamanan dan menempatkan Sonia dan kedua anaknya dalam sebuah akomodasi khusus untuk perempuan dan anak di daerah Padang Bulan, Medan.  Kemudian, IOM menempatkan suami Sonia di daerah pengungsian di luar Medan. Hal dilakukan demi keselamatan Sonia dan kedua anaknya.

Sejak perpisahan Sonia dengan suaminya, satu hal yang selalu memacu Sonia agar berhasil dalam kehidupan – Ia ingin membuktikan bahwa dirinya dan anak-anak dapat hidup bahagia dan terlepas dari rasa ketakutan, kekerasan dan intimidasi yang menghantui dirinya selama ini.

Pelatihan IOM untuk Para Pengungsi Luar Negeri

Selama berada di Indonesia, para pengungsi yang ada dibawah program IOM; menerima berbagai pelatihan untuk memperlengkapi diri mereka di negara baru.  Dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan, para pengungsi diharapkan dapat menguasai kemampuan-kemampuan dasar yang akan membantu diri mereka dalam proses pencarian pekerjaan untuk sektor-sektor informal di negara mereka yang baru.

Sukma Perwira Surbakti, salah satu staff Mental Health & Psychological Support (MHPSS) dari IOM Medan menyatakan bahwa pelatihan seperti penataan rambut dan make-up merupakan salah satu pelatihan yang banyak diminati oleh banyak pengungsi di Medan.

Sonia, menurut Sukma merupakan salah satu contoh  pengungsi luar negeri dengan penuh kegigihan - memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh IOM.  “Waktu itu Sonia baru saja selesai dengan kelas pelatihan bahasa Inggrisnya. Saya menawarkan kesempatan kepada Sonia untuk mengikuti pelatihan rambut & make up. Sonia, ketika itu, menanggapinya dengan antusias sekali. Ia benar-benar menggunakan waktunya dengan baik dan menggapai momentum yang ada.” Kata Sukma.

Sampai saat ini, berbagai pelatihan vokasi terus disediakan bagi para pengungsi luar negeri yang berada dalam pengawasan IOM di Indonesia. Harapannya agar para pengungsi dapat menggunakan kesempatan yang diberikan dan menghabiskan waktu secara produktif selama berada di negara transit.