Migrasi dan Agenda 2030

Referensi utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) untuk migrasi dibuat dalam target 10.7 untuk memfasilitasi migrasi dan mobilitas orang yang teratur, aman, reguler dan bertanggung jawab, termasuk melalui implementasi kebijakan migrasi yang terencana dan dikelola dengan baik, yang terdapat di dalam Tujuan 10 untuk mengurangi kesenjangan di dalam dan antar negara. Target lain yang secara langsung juga merujuk migrasi adalah perdagangan orang, remitansi, mobilitas pelajar internasional dan banyak lagi.

Migrasi adalah isu lintas sektoral yang relevan untuk semua 17 SDG dan sebagian besar dari 169 target di dalam Agenda. Oleh karena itu, penting untuk melihat melampaui referensi spesifik terhadap migrasi dan untuk mengakui serta membahas hubungan yang saling mendukung antara migrasi dan masing-masing Sasaran dan target.

 

Keperluan untuk data migrasi yang tepat waktu, dapat diandalkan, dan dapat dibandingkan

Seperti halnya untuk Tujuan Pembangunan Milenium (MDG), Agenda 2030 mencakup mekanisme tindak lanjut sukarela dan berlapis-lapis untuk meninjau kemajuan target SDG selama 15 tahun ke depan. Karena SDG adalah proses yang dimiliki negara, tanggung jawab pelaporan SDG terletak pada pemerintah nasional. Tinjauan nasional akan menjadi kunci dari tindak lanjut dan tinjauan implementasi SDG, dengan tinjauan regional, global, dan tematis yang turut dilakukan untuk melengkapi proses.

Untuk memantau kemajuan SDG secara global, Inter-Agency and Expert Group (IAEG) untuk Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan telah mengembangkan daftar 232 indikator global individu, yang beberapa di antaranya membahas migrasi. Jika indikator global tidak dapat dilaporkan, atau sebagai tambahan pada proses, pemerintah juga dapat mengembangkan indikator proksi untuk memantau berbagai target secara terpisah di tingkat lokal atau nasional.

Fokus utama dari proses SDG adalah untuk mempromosikan pemilahan data yang lebih besar agar dapat melayani kelompok rentan tertentu dengan lebih baik dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Untuk tujuan ini, target 17.18 menyerukan secara khusus agar data dipilah berdasarkan status migrasi. Pemilahan data ini dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan data yang lebih baik tentang berbagai dimensi situasi migran agar dapat memahami lebih baik kondisi kehidupan mereka, dan untuk memahami bagaimana migrasi berdampak pada kesehatan, pendapatan, pendidikan, dan bidang lainnya. Pemilahan yang lebih besar juga diperlukan untuk mengintegrasikan migrasi sebagai suatu isu yang lintas sektor dalam sektor pembangunan lainnya.

Memenuhi persyaratan tindak lanjut dan tinjauan untuk Tujuan 2030 adalah suatu tantangan dan dapat menimbulkan beban yang signifikan bagi pemerintah, khususnya kepada kantor statistik nasional. Hingga akhir tahun 2017, tidak ada data untuk dua pertiga dari 232 indikator SDG yang telah ditetapkan secara internasional. Selain itu, indikator migrasi tingkat global juga relatif kurang berkembang dan saat ini tidak ada indikator global yang diusulkan IAEG dan berkaitan dengan migrasi yang termasuk ke dalam Tingkat 1 (dengan kata lain, mereka tidak memiliki metodologi dan pengumpulan data global yang sedang berlangsung).

Oleh karena itu, terdapat kebutuhan bagi negara-negara untuk meningkatkan kapasitas mereka agar dapat menghasilkan pelaporan mengenai migrasi dalam konteks SDG yang bermakna. Terdapat langkah-langkah yang harus diambil untuk meningkatkan kapasitas agar dapat menghasilkan data migrasi yang tepat waktu, dapat diandalkan, dan dapat dibandingkan untuk membantu memandu para pembuat kebijakan dalam menyusun kebijakan serta rencana aksi berbasis bukti untuk menangani aspek-aspek migrasi dalam SDGs. Fokus utama untuk pengembangan kapasitas data migrasi adalah juga untuk meningkatkan pemilahan semua data berdasarkan variabel-variabel terkait migrasi. Beberapa negara telah mengumpulkan cukup banyak data tentang migrasi tetapi mereka tidak memiliki mekanisme untuk memusatkan, memisahkan dan merujuksilangkan semua data yang dikumpulkan dari berbagai cabang dalam pemerintah. Berbagi data dengan lebih baik antara pemerintah dan dengan berbagai negara juga akan memperbaiki koherensi kebijakan, yang merupakan syarat utama untuk mencapai SDGs.

Secara keseluruhan, terdapat kebutuhan untuk meningkatkan data migrasi di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional demi tujuan pemantauan SDG, dan pemerintah perlu bekerja untuk membangun kapasitas mereka agar dapat mencapai tujuan ini. Memperbaiki data migrasi adalah langkah penting untuk meningkatkan tata kelola migrasi, dan proses implementasi SDG dapat membantu memulai upaya untuk melakukan ini.

 

Pekerjaan yang sedang berlangsung untuk mengukur migrasi dalam SDGs

IOM dan Divisi Populasi UNDESA telah mengembangkan metodologi untuk mengukur indikator 10.7.2 "jumlah negara yang memiliki kebijakan migrasi yang dikelola dengan baik". Indikator ini didasarkan pada penilaian terhadap enam ranah kebijakan yang ditemukan dalam Kerangka Tata Kelola Migrasi, yang diadopsi oleh IOM Council pada tahun 2015. Indikator ini juga terinspirasi oleh pekerjaan kolaborasi IOM dengan Economist Intelligence Unit dalam mengembangkan Migration Governance Indicators atau Indikator Tata Kelola Migrasi.

Selanjutnya, Indikator Tata Kelola Migrasi juga dapat digunakan untuk SDGs. Indikator ini menggunakan 90 pertanyaan kualitatif untuk mengukur kinerja di enam ranah, yang diambil dari Kerangka Tata Kelola Migrasi. Indikator ini merupakan alat analisis kesenjangan yang tidak dimaksudkan untuk memberi peringkat pada negara-negara mengenai kebijakan migrasi mereka, tetapi lebih bertujuan untuk menawarkan wawasan mengenai pendongkrak kebijakan yang dapat dilakukan oleh negara-negara untuk memperkuat tata kelola migrasi mereka, serta untuk mengidentifikasi praktik-praktik terbaik dari pemrograman selanjutnya. Hasil penilaian ini juga dapat digunakan oleh pemerintah untuk melaporkan kemajuan mereka dalam mencapai target 10.7 serta target terkait migrasi lainnya.

 

[1] OECD (2017), Development Co-operation Report 2017: Data for Development, OECD Publishing, Paris.