Latihan Simulasi Pengurangan Bencana bagi Penyandang Disabilitas Pertama di Aceh

10/27/16
Penyandang disabilitas penyintas tsunami Asia 2004, Syarifuddin dan Delisa menunggu mulainya simulasi DRR di Banda Aceh, Indonesia

Banda Aceh, Indonesia

Pada hari Minggu ratusan warga Aceh, termasuk penduduk yang selamat dari bencana tsunami yang melanda Asia pada 2004 berpartisipasi dalam simulasi pengurangan bencana bagi para penyandang disabilitas pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh IOM.

“Ini pertama kalinya saya mengikuti acara seperti ini dan hal ini sangat berguna ketika kami perlu mengevakuasi diri di kemudian hari,” kata Delisa yang berusia 19 tahun, seorang mahasiswa sebuah Universitas di Aceh yang kaki kirinya diamputasi sebatas lutut akibat cidera yang dideritanya saat tsunami menyapu desanya.

Simulasi ini menggunakan pola bencana yang terjadi pada 26 Desember 2004: bermula dengan gempa yang sangat kuat disusul dengan tsunami yang meluluhlantakkan ibu kota provinsi Banda Aceh. Tim SAR, pemadam kebakaran, BPBD Banda Aceh dan warga setempat, termasuk sekitar 150 penyandang disabilitas  berpartisipasi membantu “korban” menuju tempat aman yang berupa gedung tiga lantai yang di desain dengan tangga landai khusus untuk warga pengguna kursi roda.

“Orang-orang berkebutuhan khusus biasanya tergantung pada keluarga, pendamping dan masyarakat agar dapat selamat pada situasi seperti itu karena mereka mempunyai banyak tantangan untuk mengevakuasi diri ketika berada dalam situasi bencana,” kata Kepala Misi IOM Mark Getchell. “Merupakan hal yang menggembirakan bagaimana aspirasi dari kelompok ini dapat didengar, sehingga memberikan kesempatkan orang-orang untuk mempelajari kebutuhan dan keterbatasan mereka dengan harapan dapat memperbaiki peraturan, aturan dan ketanggapan terkait pengurangan resiko bencana.”

IOM telah beroperasi di Aceh sebelum bencana tsunami pada Desember 2014, yang konon telah membuat lebih dari 230,000 orang kehilangan nyawa dan 500,000 korban luka, dan menjadi salah satu mitra pemerintah yang sangat berperan dalam mengatasi darurat bencana dan disusul dengan pembangunan kembali provinsi paling utara tersebut.

Upaya DRR Aceh IOM berupaya untuk menjembatani kesenjangan antara upaya pengurangan resiko bencana di tingkat lokal dan di tingkat nasional. Upaya DRR IOM ini dilakukan dengan memberi dukungan kepada peningkatan perencanaan sektoral, dan membuat titik temu antara organisasi di tingkat akar rumput dan perencana respon guna menciptakan rasa kepemilikan masyarakat.  

Seorang penyandang disabilitas menunggu latihan simulasi DRR di Banda Aceh, Indonesia

Penanggap darurat merawat orang “terluka” saat latihan simulasi DRR di Banda, Aceh, Indonesia

Seorang relawan komunitas mengantar seorang perempuan tunanetra ke tempat aman dalam latihan simulasi DRR di Banda Aceh, Indonesia

 

Indonesia (populasi 250 juta) yang terletak di lintasan seismic aktif “Cincin Api Pasifik” merupakan salah satu negara yang paling rawan dilanda bencana di dunia. Simulasi kemarin melibatkan kurang lebih 400 orang yang sepertiga diantaranya adalah warga yang berkebutuhan khusus. Simulasi ke 26 kali ini merupakan bagian   proyek yang didanai oleh USAID. Sebelumnya (2012-2014) upaya serupa juga dilakukan IOM dengan didanai oleh Pemerintah Australia dengan bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan fokus daerah Jawa Barat yang padat penduduk (kurang lebih 40 Juta jiwa)  

“Kami sangat menghargai IOM yang telah mendukung kegiatan ini,” ucap Sabri Arsyad, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan  BPBD. “Simulasi ini diperlukan untuk menambah pengetahuan masyarakat terutama penduduk yang berkebutuhan khusus, keluarga serta teman –teman mereka, sehingga kita semua bisa lebih siap bila suatu saat terjadi bencana di daerah ini.”

Sebelum pelaksanaan simulasi, Delisa terlihat duduk di samping Syarifuddin, seorang penyandang tuna netra berusia 48 tahun, yang keluarganya berhasil selamat dari tsunami meskipun mereka tinggal di dekat pusat bencana. Dia mengingat dengan jelas peristiwa yang terjadi pada hari itu, sama seperti pesan yang diucapkan oleh fasilitator DRR yang membawanya pulang. “Mereka berkata, ‘Jangan panik!’” katanya dengan sedikit menggelengkan kepala. “Dulu kami tidak siap, inilah pentingnya simulasi ini. Kami sangat bersyukur telah diberi kesempatan untuk berpartisipasi dan belajar.”  

Relawan komunitas membawa seorang pria berkursi roda ke tempat aman dalam sebuah gedung anti gempa bumi dan anti tsunami pada simulasi DRR di Banda Aceh, Indonesia Penanggap darurat mencoba memasukan seorang korban yang menderita patah kaki ke dalam ambulans dalam simulasi DRR di Banda Aceh, Indonesia