Hari Dunia Anti Perdagangan Orang

07/29/16

Dalam rangka memperingati Hari Dunia Anti Perdagangan Orang, kami menyajikan sejumlah gambar yang bercerita tentang upaya IOM dalam melawan tindak kejahatan perdagangan orang dan sejumlah statistik yang disajikan melalui infograpfik. 

Protokol Palermo memberikan sebuah definisi yang tegas tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang yang mana telah diadopsi ke dalam Undang- Undang 21 Tahun 2007 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Pengertian ini menjadi landasan untuk menarik kesimpulan dari kisah setiap korban bahwa individu tersebut merupakan korban atau tidak. 

  

Korban Perdagangan Orang seringkali mengalami penderitaan fisik maupun psikologis. IOM Indonesia, bekerja sama dengan institusi pemerintah, memastikan setiap penyintas (survivor) menerima pengobatan medis yang dibutuhkan.

Memperoleh kemandirian yang utuh dan beradaptasi kembali dengan situasi di daerah asal merupakan nadi dari Program Bantuan Reintegrasi IOM. Penyintas (survivor) ditawarkan beberapa pilihan bantuan untuk memulai kembali hidup mereka, seperti pendidikan, pelatihan, dan kegiatan ekonomi agar seperti bertani jamur sehingga mereka tidak terperangkap dalam siklus yang sama akibat kondisi ekonomi yang rentan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemberdayaan keuangan merupakan kunci dari keterlibatan IOM di akar rumput untuk  mengurangi kemungkinan perempuan terpikat oleh agen perdagangan orang. 
Kegiatan yang sudah dilakukan mulai dari menyediakan modal awal untuk koperasi wanita, bekerjasama dengan LSM setempat untuk melatih para remaja di bidang menjahit halus dan bordir,  mengajarkan petani setempat untuk beternak itik, memperbarui cara panen dan tehnik daur ulang dan membuka lahan pertanian garam di daerah pesisir.  

Perdagangan orang dapat dialami oleh siapapun pada usia berapapun. Data IOM menunjukan bahwa jumlah perempuan yang teridentifikasi menjadi korban Perdagangan Orang lebih besar, namun korban laki-laki juga merupakan realita yang seringkali tidak terlaporkan dan tidak teridentifikasi (30%).  

Data IOM Indonesia menunjukkan bahwa orang-orang dengan tingkat pendidikan rendah lebih rentan yang mana 57% korban hanya mengenyam pendidikan sampai dengan sekolah dasar atau bahkan lebih rendah. 

Perdagangan orang tidak hanya dialami oleh orang yang pergi ke luar negeri. Walaupun sebagian besar kasus yang dibantu oleh IOM berfokus pada tenaga kerja yang bekerja di luar negeri, 16% dari korban yang mengalami perdagangan orang terjadi di dalam negeri. Coba lihat sekitar Anda, eksploitasi, terutama terhadap pekerja rumah tangga, bisa saja terjadi di lingkungan tempat Anda tinggal.  

74% korban dipindahkan melalui satu jenis transportasi ke jenis yang lainnya. Hal tersebut membuat perdagangan orang menjadi lebih sulit dideteksi. Coba lihat sekeliling Anda, mereka mungkin saja berada di bus, kereta, atau pesawat yang sedang Anda tumpangi.