Cetak Biru Pemberian Bantuan dan Pengelolaan Pengungsi dan Pencari Suaka: Model Bagi Indonesia

11/28/16

Sudah lebih dari 400 tahun, Makassar, Indonesia telah menjadi jalur persimpangan perdagangan Asia Tenggara yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah dan Asia. Sehingga tidak terlalu mengherankan jika kota pelabuhan yang hiruk pikuk dengan populasi 1.7 juta jiwa itu menjadi contoh bagaimana sebuat kota telah beradaptasi dan memikat migran-migran yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan.

Keinginan untuk menerima dan membantu para migran asing itu dibuktikan dengan adanya serah terima secara resmi sebuah Cetak Biru pertama tentang bantuan dan pengelolaan bagi para pengungsi dan pencari suaka di Indonesia pada 19 Nov lalu.

“Tantangan migrasi yang dihadapi oleh kota Makassar ini tidak banyak berbeda dengan tantangan kota-kota lain di dunia pada abad 21 ini,“ kata Kepala Misi IOM, Mark Getchell pada acara seminar sehari yang diselenggarakan oleh Walikota Makassar, Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto sebagai tuan rumah acara tersebut dan didukung oleh IOM.

“Ketika sebagian masyarakat mungkin memilih untuk membuat batasan dan menolak memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang memerlukan dikarenakan ketakutan dan ketidaktahuan yang jelas, atau lebih-lebih dengan sengaja menunjukkan sikap yang tidak toleran terhadap perbedaan, maka di sini kita dapat melihat bahwa kota Makassar memilih untuk menjadi jembatan dalam rangka menjaga kebersamaan, persaudaraan, keramah-tamahan dan kemanusiaan.

Cetak Biru ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa semua instansi pemerintah lokal dapat bekerjasama dan menyekapati tugas-tugas dan tanggung-jawab masing-masing mitra kerja yang terlibat dalam lingkup pemberian bantuan pada para migran. Dengan demikian, masing-masing pihak memahami bahwa pengelolaan para migran tidak bertumpu hanya pada satu instansi pemerintah atau mitra saja melainkan juga memerlukan dukungan masyarakat untuk ikut terlibat.

Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Jendral Dewan Ketahanan Nasional Brigjen TNI Afanti S. Uloli; Kepala Imigrasi Sulawesi Selatan, Ramli Hs. Mochtar Tahir, Mpd; Kepala Dinas Sosial Makassar dan Camat Makassar, H. Rulli S.Sos.

Cetak Biru ini juga menjadi wujud karya nyata salah satu misi utama IOM, bahwa pengelolaan migrasi yang bertanggungjawab dapat memberikan manfaat bagi semua.

 

Cetak Biru pertama tentang pemberian bantuan dan pengelolaan bagi para pengungsi dan pencari suaka di Indonesia merupakan hasil dari sebuah proses konsultasi yang telah lama didukung oleh IOM. Cetak perdana buku tersebut telah diserah-terimakan kepada Kepala Imigrasi Sulawesi Selatan, Ramli Hs, yang disaksikan oleh Kepala Kantor IOM Makassar, Nelson Bosch bersama Kepala Misi IOM, Mark Getchell di sebelah kanan dan Camat Makassar, H. Rulli S.Sos; Kepala Dinas Sosial Makassar dan Sekretaris Jendral Dewan Ketahanan Nasional Brigjen TNI Afanti S. Uloli di sebelah kiri.
Bersama dengan peluncuran cetak biru, diadakan sebuah pameran kesenian menampilkan sejumlah lukisan hasil karya migran yang tinggal di Makasar. Hasil karya mereka kemudian dilelang selepas acara pameran.

Acara lelang lukisan-lukisan yang merupakan buah karya para migran dari seluruh dunia yang mendapatkan bantuan dari IOM di Makassar telah menghasilkan donasi sebesar 16.5 juta untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di kota itu.

Anak-anak para migran yang mendapatkan bantuan dari IOM di Makassar, Indonesia bergabung bersama tamu-tamu VIP dan lain-lainnya untuk menutup acara seminar serah terima Cetak Biru pemberian bantuan bagi migran dengan menyanyikan lagu “We Are The World.”