Tanggapan Keadaan Darurat dan Paska Krisis

Keadaan darurat menimbulkan suatu gejala ketimpangan sosial yang radikal, dimana seringkali hal tersebut menelantarkan suatu populasi. Keadaan darurat memerlukan suatu tanggapan yang dapat secara langsung menyelamatkan jiwa atau menekan angka penderitaan. Diamanatkan untuk "melibatkan diri secara terorganisir dalam pemindahan pengungsi, orang-orang terlantar dan individu-individu lain yang memerlukakn layanan migrasi internasional dimana untuknya segala pengaturan dapat dibuat antara Organisasi dan Negara yang Dimasuk secara terorganisir..." (Pasal 1.1 (b)), IOM telah terlibat dalam berbagai kegiatan operasional keadaan darurat dan paska krisis di seluruh dunia.

Untuk meningkatkan kemampuan IOM dalam menanggapi konsekuensi migrasi akibat suatu krisis, pada tahun 2012, IOM telah menerbitkan Kerangka Kerja Operasional Krisis Migrasi (Migration Crisis Operational Framework/MCOF). Hal tersebut merupakan alat yang fleksibel untuk mengorganisir tanggapan darurat IOM terhadap dua pilar utama, yakni: fase-fase krisis dan sektor-sektor bantuan. Di bawah pilar yang pertama - fase krisis - tanggapan IOM dibagi ke beberapa sub-bagian berikut: tahap "sebelum, saat, dan setelah". Sementara itu, sektor-sektor pilar bantuan emmuat 15 jenis bantuan, termasuk pengelolaan pemukiman tenda serta pelacakan pengungsi, penyediaan penampungan dan barang-barang bukan makanan, dukungan kesehatan, dan lainnya. 

Berlokasi di Lingkaran Api Pasifik, Indonesia rentan terhadap berbagai jenis bahaya dan bencana. Beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan dalam jumlah bencana alam, seperti ledakan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, dan lainnya. Selama ini , IOM Indonesia telah menjadi ujung tombak dalam berbagai kegiatan operasional tanggap darurat, dengan membantu ratusan orang yang terlantar oleh bencana alam dan/atau konflik. IOM Indonesia telah mengembangkan pendekatan komprehensif terhadap situasi darurat serta paska-krisis, berdasarkan MCOF, termasuk:

  • Memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan barang bukan makanan;
  • Menyediakan dukungan logistik untuk penyimpanan, transportasi dan pengiriman bantuan kemanusiaan;
  • Menyediakan evakuasi, rujukan, pendampingan medis dan bantuan psikososial;
  • membangun pemukiman sementara dan fasilitas sanitasi;
  • Membangun kembali layanan kesehatan dan pendidikan masyarakat;
  • Menyediakan layanan pendukung mata pencaharian dan reintegrasi yang ramah lingkungan. .